Le contenu de cette page nécessite une version plus récente d’Adobe Flash Player.

Obtenir le lecteur Adobe Flash

 

 

 

Pimpinan PKI Keblinger?

(Diskusi Asahan Aidit– Maria Harsono)

Oleh: Harsutejo

Diskusi tentang keblingernya sejumlah pimpinan PKI antara Bung Asahan Aidit dengan Mbak Maria Harsono amat menarik bagi saya sebagai peminat sejarah tragedi 1965. Kita sudah mengenal akan berbagai pernyataan dan pertanyaan Bung Asahan seputar peristiwa 1965 yang sering amat tajam dan kritis, barangkali membuat merah telinga sementara pihak yang tidak setuju. Bagi saya sendiri berbagai pernyataan dan pertanyaannya wajar dan sah untuk mencari tahu lebih lanjut akan kebenarannya. Sebagai peminat yang ikut mengalami masa itu saya juga kagum akan tanggapan yang amat kritis dari Mbak Maria, saya pun berpikir untuk mencari jawabannya berdasarkan sedikit pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain serta kepustakaan yang dapat saya akses. Untuk menanggapinya saya sendiri memerlukan waktu untuk menelaahnya lebih lanjut dengan lebih teliti..

Ada tulisan Mbak Maria yang bisa langsung saya tanggapi, “Ketika awal Oktober 1965, banyak yang pinter yg telah melarikan diri dan mengganti identitasnya, bahkan yang ada kesempatan keluarnegeri pada kabur ke negeri Sosialis untuk minta suaka politik, masing2 secara pinter menyelamatkan nyawanya dahulu, tidak mau ikut dikubur bersama pimpinan Partai yang keblinger itu.” Saya sendiri termasuk salah seorang yang ditangkap dan dipenjarakan, ketika dibebaskan segera kabur mengganti identitas. Dari pengalaman 6 bulan di penjara saya menyaksikan sendiri ribuan orang dibon tengah malam dan lenyap untuk selamanya, pemerintah diktator itu jelas akan membasmi semua saja yang dipandang lawannya. Mereka yang dibebaskan dan tetap tinggal di rumah kemudian diciduk kembali dan pada umumnya dibunuh atau dibuang ke Pulau Buru. Setahu saya sejumlah orang Indonesia (ratusan?) yang berada di negeri-negeri sosialis dan negeri lain, sudah berada di negeri itu ketika peristiwa 1965 meletus, sebagai mahasiswa yang sedang tugas belajar, berbagai macam utusan, sedang bekerja di berbagai institusi termasuk kedutaan besar Indonesia dsb. Hanya beberapa orang saja yang berhasil melarikan diri dari Indonesia dan menetap di luar negeri, dengan demikian lolos dari kejaran rezim Orba.

Seperti kita ketahui “keblingernya pimpinan PKI” merupakan satu dari tiga bagian analisis Bung Karno tak lama setelah terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965. Adakah anda tertarik menanggapi diskusi tersebut di atas? Atau bagi mereka yang cukup banyak mengetahui, enggan ikut serta karena merasa terikat akan segala sesuatu yang mereka anggap sebagai etika organisasi? <harsonos@cbn.net.id>

Catatan:

Mohon Mbak Maria Harsono sudi memberikan alamat email anda.

 

* * *


Makna apa dibalik kata "KEBLINGER" pemimpim PKI dalam G30S65


Bapak Asahan Aidit yth,


Keblinger adalah sok pinter, tetapi sebetulnya goblok. Jika Sukarno menyimpulkan PKI itu keblinger, saya berkesimpulan sebagai berikut:


PKI sok pinter, tidak punya kesabaran revolusioner, tanpa menunggu dipukul oleh Dewan Jenderal,kemudian melakukan serangan balas, melainkan memukul duluan, kemudian tidak konskewen melanjutkan serangan ber-tubi2 untuk menghancurkan sisa2 Dewan Jenderal yang masih hidup. Di sinilah letak kegoblokannya yang mendatangkan malapetaka buat jutaan manusia yang dianggap pengikut PKI. Sebab PKI sebelumnya pernah gembar gembor punya pengikut sebanyak 20 juta.


Saya lahir pada 1976, jadi 11 tahun setelah G30S. Ayah saya adalah anggota pimpinan Dewan Nasional Pemuda Rakyat, ketika 30 September 1965 berada di Jakarta. Setelah itu beliau ber-pindah2 rumah tinggal, untuk menghindari penangkapan. Baru2 ini sebelum meninggal dunia, beliau pernah menceritakan
pengalaman kepahitgetirannya sebagai buronan politik yg lolos dari lobang jarum angkara murka.


Menurut bung Ol, jenderal PKI yg menjadi kepala depda (departemen pemuda), September 1965, situasi revolusioner sudah sampai ke puncaknya, dalam hari2 mendatang akan terjadi penentuan siapa yang akan menang dalam pertempouran penghabisan antara PKI lawan DD (Dewan Djenderal). PKI telah memutuskan, tidak akan menghantam lebih dahulu, sebab akan membikin PKI menjadi terisolasi dari massa rakyat yang luas. Dan tak mungkin DD sekali hantam terus hancur lebur. Mereka akan melakukan serangan balas yang akan membikin Partai kita terhapus dari muka bumi Indonesia.


Tiba2 terjadilah G30S yang dipimpin oleh letkol Untung yang dibina oleh PKI dalam jangka panjang melalu biro khususnya. perbuatan Untung ini jelas melanggar disiplin Partai, dan sangat berbahaya sekali. Ketika itu, termasuk ayah saya sudah mengusulkan agar PKI bangkit mengutuk letkol Untung sebagai kontrarevolusi yang berkedok revolusioner dan mengerahkan seluruh partai untuk menghancurkan G30S. tapi sayang seribu sayang, pimpinan PKI malahan mengeluarkan statement yang mendukung G30S sebagai masalah intern AD, sebagai gerakan yang revolusioner.

Betul2 goblok sekali PKI ini. Ayah saya menjadi kecewa, tidak mau ikut dikubur bersama PKI, maka ia kabur ke Jawa Timur, kemudian ke Menado, kemudian ke Ambon, dan terakhir balik lagi ke Jakarta menjadi pedagang sate Madura di kaki lima. Pendek kata sejak itu ayah saya memutuskan tali temali dengan Pemuda Rakyat dan PKI. Ini yang membikin ayah saya selamat sampai beliau meninggal dunia pada awal Maret 2005 ybl.


Ketika awal Oktober 1965, banyak yang pinter yg telah melarikan diri dan mengganti identitasnya, bahkan yang ada kesempatan keluarnegeri pada kabur ke negeri Sosialis untuk minta suaka politik, masing2 secara pinter menyelamatkan nyawanya dahulu, tidak mau ikut dikubur bersama pimpinan Partai yang keblinger itu.
Di dalam tubuh PKI terdapat beberapa faksi, yang ekstrim kiri yang diwakili oleh Aidit, yang Marxis Leninis yang diwakili oleh Grup Bandung (Ismail Bakri) dan yang berada di tengah2nya yang diwakili oleh Sudisman/Lukman/Njoto/Sakirman dll. Ini cerita ayah, yang membutuhkan pembuktian oleh bekas pucuk pimpinan PKI yang masih hidup.
G30S dicetuskan oleh grup Aidit. Yang melanggar kepoutusan Partai untuk tidak menghantam duluan.


Ini yang membikin Sudisman dan anggota dewan Harian Politbiro menjadi serba salah, akhirnya mengeluarkan statement 2 Oktober 1965 melalui Harian Rakyat.
Sedangkan Grup Bandung mengeluarkan statement yg mengutuk G30S, mengeluarkan majalah intern Suara Demokrasi yang melakukan perdebatan sengit melawan Mimbar Rakyat yang dikeluarkan oleh CC PKI (baca Sudisman). Ayah masih sempat baca dokumen2 ini di Surabaya. Sampai lahirnya Otokritik Politbiro PKI, yang merupakan perdamaian antara grup Sudisman dan Grup Ismail Bakri. Setelah itu ayah sama sekali memutuskan tali temali hubungan dengan bekas kawan2nya, karena tidak mau ikut PKI melancarkan perjuangan bersenjata menggulingkan apa yang dinamakan rezim fasis Suharto-Nasution. Sebab ayah tidak mati konyol, ibarat telor melawan batu.
Demikianlah cerita tempo dulu yang saya dengar, sebelum ayah pulang ke alam baka.
Mohon pak Asahan melempangkan cerita ayah, jika ada yang tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya, sekalian kepingin nompang tanyak, dimana gerangan pak Asahan ketika G30S meletus? Dan bagaimana sikap pak Asahan ketika itu?
ttd.

Maria Harsono, 7 Okt 2005.

***


Asahan Aidit:

 

Makna apa dibalik kata "KEBLINGER"
pemimpin PKI dalam peristiwa G30S-65?


Salah satu dari tiga alasan terjadinya peristiwa 30S-65 yang dikatakan oleh Presiden Soekarno adalah "Keblinger"-nya pemimpin PKI. Ini bisa menimbulkanan bermacam penafsiran, dugaan dan bahkan mungkin memancing kesimpulan, siapa yang sesungguhnya biang keladi terpenting dalam mencetuskan peristiwa mandi darah itu.

Sebagai logika umum dari makna kata "keblingernya"pemimpimn PKI dalam hubunganketerlibatannya dengan peristiwa September itu bisa diartikan sbb(sementara):
1. PKI memang terlibat(meskipun bukan satu-satunya): keblinger!
2. Pemimpin PKI-lah yang terutamanya yang terlibat: keblinger!
3. PKI melaklukan tindakan avonturis politik secara spontan: keblinger!
4. Pemimpin PKI telah bertindak sendiri di luar garis umum politik Partai (merebut kekuasaan dengan jalan coup): keblinger!
Dan bahkan sesudah nomor 4 itu masih mungkin ditambah hingga beberapa nomor lagi karena memang kata "keblinger"membuka kemungkinan yang sangat luas, tapi untuk memudahkan penganalisaan baiklah dibatasi dengan 4 faktor itu saja.


Tapi sebagai kesan umum, dari empat faktor isi dari makna kata "kebilinger"itu adalah tuduhan Presiden Sukarno, bahwa PKI dan pemimpinnya memang terlibat dan terlibat secara bodoh bahkan bisa disebut secara gila-gilaan, diluar perhitungan, di luar akal sehat dan tidak bertanggung jawab.


Teoritis, PKI sebagai partai Marxis, mengetahui bahwa dalam merebut kekuasaan negara dan memenangkan revolusi tidak bisa dengan jalan coup tapi di atas dasar kematangan situasi revolusioner yang sudah matang dan kesiapan massa rakyat yang luas serta kesiapan Partai revolusoiner itu sendiri dalam memimpin revolusi di garis terdepan. Jadi dalam situasi yang tidak keblinger, PKI tidak mungkin tiba-tiba menjadi keblinger dan lalu secara spontan bertindak melakukan avonturis besar dan maha berbahaya itu yang juga di luar garis Partai yang mengarah pada cara-cara demikian.

Dalam pendidikan intern Partai-pun PKI selalu mengharamkan jalan coup atau avonturisme dalam merebut kekuasaan dan melaksanakan revolusi. Bahkan dalam diskusi-diskusi periodik Partai hingga ke bawah, jalan terorisme dan avonturisme, sangat diharamkan. Lagipula bila dikatakan PKI telah sangat terpengaruh dengan jalan Revolusi Cina yang menempuh jalan dari desa mengepung kota, maka cara-cara keblinger yang spontan, di luar garis umum dan tanpa persiapan yang panjang, tuduhan keblinger itu sangat diragukan.

Karena bila demikian, yaitu , memang kekeblingeran PKI telah melakukan kesalahan-kesalahan besar dan prinsip sbb:
1. Menyalahi dan melanggar garis umum Partai yang telah ditetapkannya sendiri
2. Menyalahi prinsip Marksis dalam menjalankan revolusi
3. Menyalahi jalan Revolusi Cina (Dari desa mengepung kota) yang telah sangat mempengaruhinya.
4.Meninggalkan massa anggota yang tidak dipersiapkan dan tidak siap sama sekali untuk menempuh jalan coup.
5. Melakukan politik avonturis secara total dan itulah yang namanya KEBLINGER dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.


Tapi lalu masaalahnya, apakah memang demikian. Untuk sampai pada kesimpulan atau tuduhan demikian, harus ada bukti-bukti dan analisa mendalam yang harus bisa dikontrol dan diklopkan apa memang demikian adanya di dalam praktek atau dalam kenyataan. Banyak hal-hal yang hanya orang PKI sendirilah yang bisa menilai sampai dimana mereka bisa dikatakan keblinger atau mungkin hanya tertuduh, terfitnah dan lalu tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin membela diri, tidak sempat menerangkan situasi dan yang terpenting mereka telah begitu cepat dihabisi dengan terror.

D.N. Aidit cepat dibunuh agar tidak mungkin diajukan dan membela diri di depan pengadilan. Puluhan ribu orang-orang yang dituduh PKI dan anggota PKI di buang ke Pulau Buru dan penjara-penjara lainnya di seluruh Indonesia tanpa pernah diadili hingga Suharto terguling. Hak-hak dasar kemanusiaan puluhan juta korban 65 hingga sekarang belum dipulihkan. Semua kenyataan ini membuktikan kebenaran yang sesungguhhya di balik peristiwa G30S-65 akan selalu ditutup-tutupi yang mula-mula dengan teror, lalu dengan kebohongan, pembodohan massa rakyat dan sekarang ini dengan pemutar balikan sejarah melaui tulisan-tulisan, buku-buku (termasuk yang dibuat oleh penulis asing) yang membikin roman politik atau sastra jurnalis politik yang lebih menyerupai film-film Jackie Chan, yang memang enak ditonton tapi tidak bisa diperlakukan sebagai film-film `yang mengangkat kebenaran sejarah.


Tapi dalam ketakutan dan ancaman jiwa yang serius, orang memang bisa keblinger, bisa mengatakan sesuatu yang lain dari apa yang sesungguhnya yang ada di hatinya, bisa menipu musuh dan menipu dirinya sendiri untuk menyelamatkan diri, bisa berhianat, bisa memfitnah teman sendiri bahkan saudara kandung sendiri di depan musuh yang sedang juga super blinger tapi kuat dan kejam.

Penyelidikan sejarah memang belum selesai dan memang tak akan pernah selesai bila yang mendominasi sejarah adalah pihak yang kuat dan sedang berkuasa. Sedangkan kebenaran tidak jatuh dari langit, tidak otomatis di pihak yang benar, tapi harus diperjuangkan secara gigih dan pula dengan kekuatan tertentu yang sanggup beradu dan tidak cuma meratap, meminta atau cuma dengan keyakinan pasif dan tidak berani tatap menatap dengan musuh kebenaran.


Tuduhan Presiden Soekarno terhadap pemimpin PKI sebagai "keblinger"patut dijadikan studi analisa untuk dikontrol kembali kebenarannya demi untuk mendapatkan bahan-bahan obyektif dan terpercaya, apa sebetulnya dibalik kata "Pemimpin PKI yang keblinger"sebagai salah satu faktor yang dianggap besar tercetusnya peristiwa G30S-65.

Diperlukan kekritisan dan keberanian menganalisa yang tidak berat sebelah hingga hasil penyelidikan sejarah, terutama sejarah pembrontakan G30S-65 tidak seperti sekarang ini:
- Seluruh ORBA merasa benar kecuali ORLA dan PKI
- Seluruh bangsa merasa benar kecuali PKI
- Seluruh Partai-Partai merasa benar kecuali PKI
- Seluruh anggota PKI merasa benar kecuali para pemimpinnya
- Seluruh Pemimpin PKI merasa benar kecuali D.N.Aidit
- Seluruh teroris merasa benar kecuali yang diteror.


Dan merasa benar di sini berarti pandai membela diri sendiri dan pandai menyalahkan orang lain.Sedangkan yang disalahkan adalah yang sudah mati, seperti PKI yang sudah mati, D.N. Aidit yang sudah mati, para pemimpin PKI lainnya yang juga sudah mati, ORLA yang sudah mati. Hanya Presiden Soekarno yang masih sempat membela diri karena masih sempat hidup untuk beberapa waktu dan masih sempat menuduh pemimpin PKI sebagai "keblinger" tanpa menjelaskan lebih lanjut meskipun dengan sepatah kata, mengapa "keblinger", apa lagi, apa itu kongkretnya "keblinger" yang dilakukan oleh Pemimpin PKI.

Menyalahkan orang yang sudah mati memang mudah dan membela diri ketika masih hidup juga tidak sulit. Yang sulit adalah menyingkap kebenaran, bersikap jujur dan tidak memikirkan keuntungan dan keselamataan diri sendiri semata-mata. Presiden Soekarno mungkin saja dalam keadaan keblinger juga, di tengah kepungan musuh-musuhnya dan kehilangan kawan terpercayanya yaitu PKI sehingga mungkin dalam keadaan yang tidak disengaja telah menohok teman seiring dengan menuduh Pemimpin PKI sebagai "keblinger"..

Dan tuduhan itu akan sangat menguntungkan Orba dan Suharto dan juga akan punya pengaruh negatif terhadap pendapat umum Indonesia pada waktu itu maupun sekarang ini bahkan mungkin juga di masa datang. Tapi dengan menggunakan metode analisa yang obyektif , menggunakan semua bahan dari semua pihak dan tidak terpancing dengan tulisan yang dari dalam negeri maupun yang dari pihak Barat yang punya kebiasaan bikin buku atau tulisan sensasionil, bombastis, dengan mnggunakan metode roman horror, bukti-bukti palsu yang tak pernah terbuktikan di depan umum, dengan menempelkan label gelar kesarjanaan yang dijadikan reklame untuk jaminan mutu tulisannya yang tidak bermutu, pemikiran kritis, berani jujur dan berani mengatakan dan memebela kebenaran, tentu setiap penipuan, kebohongan, manipulasi serta pemutar balikan sejarah akan terungkapkan juga cepat atau lambat.

Para sarjana seperti yang antara lain Dr. Benedict Anderson dan Prof. Dr. Wertheim yang secara jujur dan berani mengungkap kebohongan dan pemalsuan rezim Orba dan Suharto, patut dijadikan pedoman dan patokan untuk mengungkap lebih lanjut dalam penelitian sejarah G30S-65. Secara sengaja atau tidak sengaja, kita tidak perlu membikin reklame gratis bagi para penulis buku yang cuma merekayasa kebohongan, kepalsuan dengan cara sensasionil bahkan dianggap "spektakuler"pula. Biarkanlah buku-buku picisan itu bergulir menurut jalan yang dibuatnya sendiri dan tak perlu dicomot lalu tanpa sadar telah mempromosikannya ke berbagai media termasuk internet.

Pikiran yang sehat dan otak yang segar harus juga pandai memilih makanan otak yang baik, konsumsi yang sehat dan orientasi ke rakyat. Kita hidup di tengah sampah dan dekat sungai-sungai yang kotor serta udara pengap tercemar bermacam racun kimia politik. Pilihlah tempat-tempat yang masih relatif bersih dari pencemaran dan jangan suka mencomot barang-barang aneh di tengah jalan yang tampak terbungkus baik yang mungkin dari seseorang mules perut yang takut atau segan ke luar rumah atau dari kamar di tengah malam.
asahan aidit.

* * *

Sdr. Maria Harsono Yb,


Dalam satu hal saya sangat setuju dengan anda bahwa memang PKI punya kelemahan di bidang teori, politik dan ideologi dan lalu melakukan kesalahan-kesalahan besar sebagai akibat kelemahan yang lama tak terkoreksi secara serius itu. Tapi kita harus membedakan secara tegas antara kelemahan atau kesalahan intern Partai dengan apa yang difitnahkan oleh Suharto kepada PKI sebagai dalang pembrontakan G30S-65. Itu adalah dua hal yang sangat belainan yang tidak bisa disimpulkan bahwa PKI telah melakukan pembrontakan dan menjadi dalang G30S-65.

Dalam diskusi-diskusi Partai yang saya ikuti selama saya belajar di luar negeri sejak tahun 1961, tidak pernah ada diskusi yang membicarakan persiapan PKI akan meng-coup atau merebut kekuasaan seperti cara-cara yang dipakai pada peristiwa 30S itu. Yang selalu menjadi tema diskusi adalah bahwa di Indonesia sudah ada situasi revolusioner yang semakin masak.

Ilusi Partai waktu itu adalah menunggu tanggal main para Perwira Tinggi yang sudah lama berkontradiksi dan akan saling menggulingkan. Sedangkan pengaruh Partai dalam tentara dikatakan semakin meluas dan menguat. Dan dari pemikiran beginilah ilusi memenangkan revolusi denga jalan damai itu terus berkembang. Dengan kata lain , bila pihak perwira tinggi g yang revolusioner itu nantinya menang( istilah politik ketika itu adalah "aspek pro rakyat" dalam" teori dua aspek") maka PKI berilusi revolusi akan menang tanpa ikut perang (PKI tidak punya senjata, tidak punya tentara, tidak punya pasukan bela diri) dan semuanya bersandar pada "aspek pro rakyat" yang dalam tentara itu.

Dan di sinilah salah satu kesalahan besar PKI yang punya ilusi besar: ingin memenangkan revolusi dengan menyandarkan diri pada "aspek pro rakyat "dalam kekuatan bersenjata yang dinilainya sudah merupakan kekuatan revolusi yang terpercaya ditambah lagi dengan persekutuannya dengan Presiden Soekarno, plus massa rakyat yang mendukung PKI, plus massa anggota PKI yang puluhan juta, simpatisan dan juga sokongan dari Partai-Partai sekawan seperti dari Cina dan dari negeri-negeri sosialis lainnya yang cuma berupa sokongan kata dan semangat saja.

Tapi golongan reaksioner Indonesia ternyata lebih pintar, mereka tahu taktik PKI dan kelemahan PKI sekaligus. PKI yang hanya bermodal daging ingin memenangkan revolusi dengan tangan kosong, dan cuma bermodal sokongan dan sorak sorai yang itulah yang kita sebut sebagai "jalan damai"nya PKI untuk menuju kemenangan revolusi. Dengan kata lain PKI tidak pernah punya niat, tidak pernah ada persiapan, dan juga tidak ada kemampuan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan senjata, kecuali dengan jalan damai seperti yang sudah digariskan dalan garis umum Partai yang tertuang dalam "Teori dua aspek".

Golongan reaksioner Indonesia sudah lama mengetahui kelemahan PKI, mengetahui ilusi PKI, dan mereka (terutama yang memegang senjata) mengetahui titik lemah PKI yang paling dasar: Tidak punya kekuatan riil yang bisa memberikan perlawanan terhadaap mereka ( tidak punya tentara, umpamanya seperti yang pernah dipunya DI-TII, Dewan Banteng, Permesta dll, yang meskipun ahirnya bisa ditumpas tapi mereka pernah punya kekuataan riil).

Karena itulah jalan yang paling ampuh untuk menumpas PKI adalah jalan fitnah, provokasi (ingat provokasi Madiun), Intimidasi, dan penysupan mata-mata ke dalam tubuh PKI. Ditambah lagi dengan pemborjuasian dalam tubuh PKI waktu itu yang telah sangat membudaya yang sudah sangat disedari sendiri oleh PKI. Masih adakah di kalangan orang PKI yang berani memikirkan untuk merebut kekuasan dengan senjata atau kekerasan dalam keadaan ideologi yang keropos demikian?. Tapi berilusi masih berani karena itulah mentalitas orang yang baru diborjuasikan.

Dan seperti kita ketahui , Suharto telah menggunakan situasi yang dinilainya akan sangat menguntungkannya meskipun harus dilakukannya dengan jalan hianat yang paling besar sekalipun. Dia bikin Untung adalah suruhan PKI, Syam Kamaruzzaman punya biro Khusus dengan D.N.Aidit dan macam-macam lagi ciptaannya yang lain untuk menghancurkan PKI dengan jalan yang paling hina dan nista sekalipun.

Tapi mari kita lihat kenyataan yang paling besar yang disaksikan oleh setiap orang di Indonesia dan diketahui oleh dunia luar dengan amat jelasnya:
- Yang membunuh puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan nyawa manusia Indonesia yang tidak bersalah adalah Suharto beserta serdadu-serdadu, para algojo sewaan,massa rakyat yang dia paksa dan Orba-nya dan BUKAN PKI, bukan Komunis.
- Yang membunuh 7 jendral bukan PKI, bukan Komunis tapi adalah tentara (PKI tidak punya sebuah pistolpun)
-Yang memenjarakan puluhan ribu orang yang dituduh Komunis dan semua orang yang tidak tahu menahu tentang G30S-65 ke seluruh penjara-penjara seluruh Indonesia dan juga Nusa Kambangan serta Pulau Buru adalah Suharto dan bukan PKI.
- Yang menjadi diktator dan melindas demokrasi serta HAM di Indonesia adalah Suharto dan bukan PKI.
-Yang melakukan politik diskriminasi rasial (terutama terhadap etnis Cina) adalah Suharto dan bukan PKI.
- Yang meng-coup Presiden Soekarno dan menahannya adalah Suharto dan bukan PKI.
- Yang merebut kekuasaan dan menjatuhkan Pemerintahan Presiden Soekarno adalah Suharto dan bukan PKI.


Bisakah kenyataan besar itu dibantah?. Bahkan Suharto sendiripun hingga detik ini tidak berani buka mulut untuk membantahnya.
Bisakah kita katakan semua yang dilakukan Suharto tsb diatas itu adalah kesalahan PKI?


Melihat kesalahan dan kelemahan PKI adalah di dalam intern PKI itu sendiri dan itu memang jelas ada dan akibatnya telah menghancurkan dirinya sendiri, para angota dan simpatisannya tapi PKI absolut tidak melakukan dosa atau pembunuhan terhadap rakyat Indonesia, hal itu dilakukan langsung oleh Suharto.
Lalu pertanyaan yang saya ajukan, apakah tuduhan Presiden Soekarno bahwa pimpinan PKI yang "keblinger" bisa menutupi semua perbuatan Suharto seperti yang tersebut di atas, meringankan dosa Suharto dan lalu akan ditimpakan pada PKI? atau bahkan sudah ditimpakan.


Menurut saya tuduhan "keblinger"adalah tuduhan yang tidak serius, kurang mencerminkan kebenaran dan bahkan terasa gampang-gampangan saja.
Mengapa?


-Tindakan Suharto yang cepat, mendadak, yang dalam waktu sangat singkat berhasil menangkap hampir semua pimpinan PKI yang masih dalam keadaan terlena dan menyandarkan bantuan Presiden Soekarno yang sudah tidak berwibawa, menyebabkan kebingungan besar, panik dan kehilangan orientasi pada pimpinan PKI. Bisakah dalam keadaan begini, seseorang, bahkan bila dia seorang pemimpinpun, masih sanggup untuk merasa diri sok tahu, sok pintar? atau seperti yang dibilang Presiden Soekarno itu sebagai "keblinger"? Yang paling mungkin terjadi, menurut saya, dalam keadaan kritis dan bahaya besar itu, seseorang lebih cenderung menjadi gagap, bingung, dan bisa kehilangaan orientasi. Dosakah bila keadaan demikian terjadi pada seorang pemimpin?.

Pemimpin yang manapun pada ahir-ahirnya adalah seorang manusia juga, bukan nabi,bukan superman. Dan apakah ketika peristiwa sudah terjadi, para perwira dalam angkatan bersenjata yang dulu bersimpati pada PKI, berjiwa revolusiner, lalu serta merta dihianati dan dikutuk oleh pimpinan PKI? Demi untuk menyelamatkan PKI sendiri?. Langkah salah pertama bukan dilakukan oleh PKI tapi oleh intern angkatan bersenjata itu sendiri. Lalu sebagai akibatnya, apakah Pimpinan PKI cepat-cepat cuci tangan sambil mengorbankan teman sendiri yang pun ternyata adalah korban perbuatan Suharto sendiri.


- Ketidak siapan PKI atau lebih tepatnya scenario para perwira yang punya rencana membunuh 7 jendral itu membuat pimpinan PKI harus memilih hanya dua pilihan:
a. menyokong gerakan( setia kawan, pada perwira yang "pro rakyat")
b. mengutuk gerakan (menghianati kawan, perwira-perwira yang "pro rakyat")
Silahkanlah pilih PKI yang a atau yang b. Yang jelas PKI tidak bisa tidak memilih keduanya.


Bisakah kita katakan pimpinan PKI telah keblinger dalam pilihan yang mematikan itu. Tapi jelas di sini ada dua macam kematian: Yang menghianati teman atau yang setia kawan. Tapi akibat selanjutnya adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Suharto karena dialah yang berlaku sebagai algojo pembunuh ratusan ribu hingga jutaan manusia Indonesia yang tidak bersalah. Saya merasa sayang bahwa Presiden Soekarno telah memilih kata yang tidak beruntung itu untuk PKI dalam keadaan PKI sendiri tetap setia hingga ahir hayatnya kepada Bung Karno.


Saya sebagai pribadi dan adik D.N. Aidit (cuma bahan pertimbangan):
Saya tidak yakin kalau D.N.Aidit itu bisa jadi orang kekiri-kirian. Saya mengenalnya dari dekat, tinggal bersamanya dalam banyak tahun, serumah, dan juga bekerja untuknya. Secara politik dia tidak punya sifat kekiri-kirian. Saya sebagai bekas anggota Partai, selalu sebagai oposisi dalam grup Patai yang mananpun, saya juga tidak suka dengan sifat kekiri-kirian.
D.N.Aidit juga tidak punya sifat diktator, terhadap keluarga maupun terhadap kawan-kawan sendiri.


Kalau saya membaca tulisan orang lain rentangnya yang menuduh dia seorang diktataor, saya cuma ketawa. Reputasi pribadinya begitu drastis direndahkan sesudah peristiwa G30S-65. Tapi saya bisa memaklumi karena itulah sisa-sisa pemborjuisan di dalam Partai sebagai akibat jalan damai yang bersuka ria dengan kaum borjuis besar dan sedikit kebagian harta borjuis. Iri dengki satu sama lain di antara pimpinan Partai sendiri, sudah menjadi budaya intern Partai dan lalu digunakan musuh untuk mengadu domba seperti umpamanya antara Aidit dan Nyoto, katanya ada kontradiksi yang mendalam. Saya tahu persis hubungan Aidit dan Nyoto. Aidit sangat mengagumi kebrilyanan otak Nyoto terutama dibidang seni dan musik hususnya.

Aidit tidak punya sifat iri terhadap kawan yang lebih dari dirinya. Apa yang ditiup-tiup sebagai kontradiksi adalah omong kosong. Memang akibat pemborjuisan di dalam PKI, mentalitas pimpinan, terjadi degradasi, terutama oleh pengaruh materi dan ingin hidup senang. Itu sebuah cerita yang akan berjilid jilid. Tapi akan saya ahiri hingga di sini karena ini sudah teramat panjang dan memang cuma beginilah kemampuan saya, semoga dengan penjelasan atau pemikiran saya ini, Sdri. Maria Harsono tidak kecewa. Saya turut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Ayah anda beberapa bulan lalu. Semoga kita selalu jelas dalam membedakan siapa lawan siapa kawan.
Salam.
asahan aidit

---:::---